Tentang Farhan Hans

Assalamu’alaikum wahai kawan!

Dengan segenap perjuangan dari seorang bunda, aku telah dilahirkan dengan selamat wahai sentosa di atas jazirah suku Kubu, yaitu Jambi. Dinobatkan pulalah tanggal 28 Juli 1989 sebagai hari kemerdekaanku. Namun dengan ironis binti nelangsa, aku sama sekali amnesia dengan bentuk rupa dari mahligai kota Jambi yang konon jelitanya bagai bidadari (ngaco!!!)πŸ˜€

Menurut legenda (namun kisah nyata), aku dilarikan ke pulau Jawa dan menetap di singgasana tempat persembunyian Pangeran Diponegoro zaman dahulu, yaitu Magelang. Dan ketika usiaku menua, dan harus menempuh kewajiban warga negara, yaitu menduduki bangku SD, aku menyonsong Wajib Belajar 9 Tahun di sebuah daerah berpenduduk manusia ngapak. Dan daerah yang tidak beruntung itu adalah Kebumen. Kemudian hingga usiaku menyentuh angka keramat (18), aku menopang beban kuliah di UNS Surakarta alias Universitas Sebelas Maret Solo.

Beribu-ribu detik, yang selalu menjadi menit, selalu pula mengabdi pada jam, seiring itu pula tertempuh waktu 3 tahun, yang bagiku sangat melelahkan. Namun, akibat dari perbuatanku yang setia dan teguh pada nasihat orang tua (terutama ibuku, ibuku, dan ibuku) aku pun dapat sampai dengan selamat dan menempuh kesuksesan meraih gelar Ahli Madya untuk bidang Desain Grafis (nama kerennya sekarang Desain Komunikasi Visual, pasti terlalu keren untuk kalian yang membacanya, hehehe… :D).

Aku bernama asli Lufthans Arstipendy. Akan tetapi, aku menyadari lidah kalian tak sepandai orang Jerman yang fasih dengan ejaan namaku. Sehingga, aku biasa dipanggil Hans. Karena profesiku sebagai penulis dan penyiar, aku menganugerahkan pada diriku sendiri (narsis banget!) sebuah nama siar plus nama pena, yaitu Farhan Izzuddin, dan kini nama tersebut berevolusi menjadi Farhan Hans. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih sering dipanggil Farhan. Tak masalah, aku pun akan menoleh dan merespon jika kalian memanggilku Farhan. Kalo kalian panggil Farhan, aku akan menoleh ke kanan, kalo manggilnya Hans, maka aku akan menoleh ke kiri. (Hahaha, tidak penting!)

Aku tahu, kalian pasti penasaran hingga tak bisa tidur, kenapa namaku Lufthans Arstipendy (satu2nya di dunia, terbukti tidak ada yang menyamai ketika aku seraching di Sultan Google-kubuwono). Ibuku pernah jalan-jalan, shoping, dan spend so many times (hayah!), maksudnya pernah menempuh studi di Jerman. Tepat saat aku mendengkur di perut beliau (gini2 gue pernah menghirup udara Jerman kawan! :D). Untuk mengenangnya, maka nama maskapai penerbangan jerman, yaitu Lufthansa, disadur ke dalam namaku. Dan dengan kekuatan IQ yang tinggi, beliau (ibuku) menelurkan kata Arstipendy, yang merupakan akronim dari Arisan dan Stipendium (bahasa Jerman yg dalam terjemahan Indonesia berarti Beasiswa). Arisan adalah karena ibuku dapet arisan waktu aku dalam kandungan. Stipendium (beasiswa) pun juga beliau dapatkan ketika aku masih dalam kandungan.

Selama kuliah, aku pernah menyalahgunakan waktu kuliahku sebagaimana mestinya. Yaitu dengan ikut organisasi, plus mencari maisyah, dan aisyah (haha…kalo yang ini bercanda!!!). Sehingga didapatlah pengalaman2 berharga. Organisasi yang kusinggahi cukup banyak, mulai dari SKI FSSR, BIAS FSSR, JN UKMI UNS, dll. Kerjaan yang kujejali pun cukup beragam. Mulai dari penyiar, guru TK, freelance designer, sampai tukang sapu (nyapu rumah sendiri maksudnya…hehe…)

Dari situlah aku meraup banyak sekali keuntungan2 dunia dan akhirat. Mulai dari teman, ilmu, pengalaman, and absolutely money.πŸ˜€ (cuma side effect aja kok, yang penting itu kan ilmu, pengalaman, dan teman2 yang baik, iya ga??)

Alhamdulillah atas izin Allah SWT, dan didorong atas keinginan luhur, maka sesungguhnya kelulusan kuliah adalah hak mahasiswa. Aku diterima kerja sebelum sempat wisuda. Tepatnya di sebuah biro iklan/advertising lokal Solo bernama Refo Media. Naas, karena tawaran yang lebih menggiurkan, maka aku hanya 1 bulan di sana. Kemudian aku melanjutkan perjuanganku sebagai designer di sebuah penerbit Islam skala nasional (bahkan manca), yaitu Ziyad Visi Media. Dan lagi2, nasib menggeser arah hidupku untuk merantau di tanah rantauku dulu, yaitu Magelang. Alhamdulillah atas ijin Allah SWT, aku dikaruniai sebuah pekerjaan yang banyak diinginkan penduduk negeri ini, sekaligus banyak pula yang mengutukinya dengan segala sumpah serapah kayak jerapah, apalagi kalo bukan PNS. Namun aku tetaplah bersyukur. Karena kata Syekh Hasan Al Banna,

“Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah dia sebagai sesempit pintu rezeki. Namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Jangan engkau melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas dakwahmu.”

Sungguh, berat jadinya ketika ingat petuah tersebut. Okelah kalo begitu kawan. Life must go on. There’s no time for us to turn back. Maka sedari itu kawan, ini sudah terjadi. Sesuai dengan motto hidupku, maka Lihatlah Ke Depan! Tapi itu Motto dulu, sekarang bolehlah liat ke belakang, minimal pakai spion. Kalo bisa dua, soalnya kalo cuma satu doang sekarang ditilang. :p

Berbekal pedoman Bakti Husada, kini aku sedang berusaha mewujudkan Indonesia Sehat (sok realistis!) bersama rekan2 di lingkungan Kementerian Kesehatan RI. Begitulah…πŸ™‚

Aku punya hobi nggambar, terbukti dengan ribuan karya yang telah dicetak ulang dengan berbagai bahasa, termasuk Pluto dan Bangladesh (hayah, ngelantur!!!). Karunia ini didapat dari seorang ayah yang memang pandai melukis. Lukisanku bahkan dipajang di lobi SMA ku sampai sekarang. Walhasil, aku memiliki bakat yang luar biasa sebagai seorang desainer&ilustrator (narsis!!!). Pernah menjuarai beberapa lomba2 desain tingkat lokal maupun nasional. Gambar-gambar saya bisa dilihat di sini. Aku juga pandai merangkai karangan bunga, eh maksudnya merangkai kata. Hasil dari kerja kerasku menempuh pendidikan informal di Forum Lingkar Pena Soloraya. Karya-karya tulisanku pernah menembus media, namun tak sampai menembus angkasa raya. (jayus.co.cc)

Hobiku selain nggambar, ndesain, nulis, aku pun dikutuk memiliki hobi touring, dengan kuda kelanaku bersertifikat AA 4940 FM, dengan trademark Vega R 110 cc. Rekor MURI (Museum Rekor Sendiri) pernah tercatat, yaitu perjalanan Solo-Jogja hanya memakan waktu 45 menit (busyet dah, Prameks kalah!). Memang aku ini jago ngebut di jalan raya. Namun, semenjak kejadian ‘tabrakan’ saat itu, aku mulai menurunkan km/jam menjadi posisi 80 (biasanya sampe 100km/jam,hehe).

Itulah sekelumit gebrakan seorang Farhan Hans di dunia antah berantah ini.

“I wish Allah always renew our faith in every sunrise.”

Wassalamu’alaikum…

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s