Sungguh Setiap Mukmin Bersaudara

“Sungguh setiap mukmin bersaudara.

Aku tahu ukhuwah tak perlu diperjuangkan, tak perlu…

Karena ia hanya akibat dari iman.

Karena saat IKATAN melemah,

Saat KEAKRABAN merapuh,

Saat SALAM terasa menyakitkan,

Saat KEBERSAMAAN serasa siksaan,

Saat PEMBERIAN bagai bara api,

Dan saat KEBAIKAN justru melukai,

Aku tahu yang rusak bukan ukhuwah kita.

Hanya iman kita yang sedang sakit, atau menjerit.

Mungkin kau, tapi tentu terlebih sering adalah imanku,

yang compang-camping…”

Glek! Aku langsung membuat pola lipatan pada dahi ketika membaca SMS tausyah yang diterbitkan ke alamat gateway nomor handphone-ku tersebut. Itu adalah SMS tausyah yang dilayangkan dari salah seorang teman dan kawan perjuangan di Lembaga Dakwah Fakultasku dulu, ya dulu. Dulu ketika aku masih menyandang gelar apik nan elegan sebagai aktifis dakwah kampus. Barangkali semua orang bakal menyanjungku saat itu, ya saat itu. Ketika rasanya aroma terapi membanjiri semangatku yang tiada henti. Hanya untuk berdakwah karena Allah, bukan yang lain. Tapi apa daya, dan aku harus mengkaji ulang gelar tersebut, yang bagiku malah merinding mendengarnya sekarang. Bulu romaku bahkan selalu terhentak saat kenangan-kenangan dahulu muncul begitu saja dalam lintasan angan.

Sudah hampir dua tahun aku terlantar. Menjadi paku tua karatan yang terseok di pinggir jalan. Jika menuju sedikit saja ke tangah jalan, bukan nyawaku yang terncam, tapi orang lain. Aku seperti seorang pembunuh, pembunuh yang dalam hatinya tak ingin membunuh. Dan hari ini sungguh sangat kejutan, lebih mengejutkan ketika Tsunami melanda Aceh beberapa tahun lalu. Bolak-balik aku mainkan keypad HP untuk membaca ulang dari atas ke bawah, dan begitu seterusnya. Bahkan aku tak merasa bosan melakukan hal itu. Aku menatap penuh hasrat seolah-olah ada yang terselip dalam SMS tersebut. Mungkin saja ada kata-kata ‘Selamat Anda memenangkan undian berhadiah mobil mewah!’.

Mustahil! Lucu sekali hingga aku tak ingin tertawa! Yang nyata tertulis hanya itu. tak ada yang lain dan hanya itu…

Selama dua tahun tersebut, aku terendam dalam kolam kefuturan yang menyangat. Tepat ketika akhirnya aku memilih untuk ‘pulang kampung’, pasca kelulusanku saat itu. Aku pikir aku akan menemukan dunia baru, seperti ketika seekor ikan yang terbebas dari akuarium dan telah berenang bebas di lautan Pasifik. Persis! Memang persis begitu! Aku memang bebas. Tak ada lagi yang menyorotiku, sehingga aku bisa leluasa berjingkrak di tanah lahirku ini. Pun aku tak menghiraukan akan mata Allah SWT yang aku sendiri sudah paham betul bahwa Ia adalah Maha Melihat melebihi apapun.

Sorak sorai aku berpesta atas kebebasanku ini, serasa narapidana yang bebas kurungan. Bahkan aku selalu diberi nikmat berlebih, ketika hidangan pekerjaan yang pas menanti dihadapan. Cocok! Lengkap sudah kebahagiaanku ketika akhirnya pendamping hidup juga segera bersandar didekapanku.

Aku jauh dari saudaraku. Aku nilai itu sebagai pengakuan jujur. Ternyata aku sangat lemah di sini, di kampung halamanku sendiri! Sempat terbesit berkali-kali penyesalan atas keputusanku dahulu untuk kembali ke kampung halamanku ini. semua sudah terjadi. Aku tak bisa memulihkan proses ukhuwah yang sudah lenyap itu.

Tak terasa pelipisku basah. Ah! Air mata. Betapa cengeng diriku ini. Hanya bisa menangis. Lalu bagaimana tindakanku selanjutnya? Aku ingin membalas SMS tausyah itu, barangkali sekedar mengucapkan ‘Syukran atas tausyahnya.’, tetapi janggal. Aku merasa tak berhak lagi menyentuh inbox sodaraku tersebut. Betapa noda-noda kotorku akan membuatnya ikut nista bersamaku. Namun, hatiku merintih untuk ingin menyapanya. Bukankah yang lebih baik diantara sodara muslim itu siapa yang lebih dahulu mengucapkan salam? Retorik! Tentulah sudah lama sekali paradigma itu dibenamkan dalam akhlakku.

Aku pun menghela nafas, sepanjang aliran darahku yang juga mengalir ganas. Di saat-saat beginipun aku masih berpikir ulang untuk membalas atau tidak. Barangkali hampir sama usianya, sama-sama dua tahun sudah aku tak pernah menyapa dia lagi. Sombongkah diriku? Dilematis rasanya. Akhirnya aku pun sependapat dengan isi tausyah tersebut. Bukan ukhuwah yang rusak, tapi iman. Ya imanku yang compang-camping. Tepat sekali rasanya! Sindiran yang langsung menancap di titik sasaran pada nuraniku.

Meski dengan nada bergetar, jariku akhirnya kupaksakan untuk ber-tak-tik-tuk pada keypad QWERTY di handphone-ku. Dengan modal ucapan basmallah yang masih senantiasa kuteladani, kutiliskan sebuah kalimat untuk sodaraku itu.

“Sungguh tausyah yang menggetarkan. Setelah sekian lama kita tidak saling bertegur sapa. Aku harap ukhuwah kita, maupun iman kita tetap sama dan terjaga seperti dahulu.”

Singkat. Aku tak terlalu bisa mengurai sebuah kata-kata. Aku harap kalimat yang ku tulis tersebut cukup representatif dengan isi hatiku. Biarlah, toh barangkali ia juga tak terlalu mengetahui kondisiku yang sebenanrnya di sini.

Tak beberapa lama kemudian sebuah balasan muncul kembali. Tentu saja balasan darinya. Dengan harap-harap cemas aku buka isi pesan singkat yang baru saja menerobos masuk ke inbox-ku ini.

“Tentu kita masih bersodara seperti dahulu akhi… Semoga Allah SWT senantiasa menjaganya, meski kita telah lama tak bertatap muka maupun bertegur sapa.🙂 “

Aku terharu untuk kedua kalinya. Bahkan ia masih menganggapku sebagai sodaranya. Sebuah smiley muncul di deret akhir, membuatku menyimpulkan senyum diatas tangis haruku. Aku yakin seratus persen karena ia tak mengetahui kondisiku yang sebenarnya di sini. Sungguh hal ini sangat menamparku.

Maka mulai hari ini aku harus bertekad untuk bangkit. Aku tak ingin sebuah ‘tsiqoh’, sebuah kepercayaan yang diberikan kepadaku, aku sia-siakan begitu saja. Percuma aku membangun ukhuwah selama masa kuliahku dulu bersama meraka. Untuk apa aku kembali lagi ke kampung halamanku jika bukan karena aku ingin melanjutkan dakwah ini? Innallaha ma’ana, aku meyakininya, sodaraku, terima kasih untuk tausyah itu…

Dakwah ini jalan panjang…

Sebuah renungan untuk diri sendiri_

_Farhan Hans_

10-10-10

3 Comments

  1. Cerita yang sama ketika saya mencoba fokus untuk mengakhiri masa studiku dulu. Ada rasa yang berbeda ketika niat untuk melepas sejenak dari ukhuah itu. Saudar semisi dan sevisi dalam barisan dakwah yang senantiasa memberikan semangat untuk senantiasa dekat dengan-Nya.
    Lepas dari kampus, memang menjadi suatu tantangan baru bagi kita, karena kita akan kembali dari nol untuk mencari dan menyatukan ghiroh yang pernah ada selama masa kuliah dulu. Ya, ghiroh berdakwah d dunia kerja. Dimanapun, sasaran dakwah kita tetap sama. Mereka, saudara-saudara kita yang merindukan Cinta-Nya…Kembali merangkul saudara sevisi dan semisi dengan kit auntuk berdakwah. Kemanapun kaki melangkah, ke masjid (dakwah) kita kan kembali
    Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s