Izinkan Aku Tampil Di Sana!

“Ah, ini tulisanku! Tulisan yang selesai aku buat tiga bulan yang lalu! Kenapa diterbitkan? Padahal katannya tulisanku tidak layak terbit. Masya Allah… kenapa nama penulisnya bukan aku?”, batinku heran seribu heran sambil memegang sebuah novel terbaru yang dipajang di etalase toko buku ini.

Tepat tiga bulan yang lalu aku mengirimkan naskah tulisan fiksi motivasi ke salah satu penerbit di Bandung. Satu pekan setelahnya aku mendapat jawaban bahwa tulisanku itu tidak layak muat. Bahkan ditambahkan dalam notifikasinya bahwa aku masih harus belajar lagi menjadi seorang penulis. Aku tak tahu perihal apa yang membuat ‘mereka’ sama sekali tidak mau untuk menjelaskan dimana letak kekurangan tulisanku. Yang bisa aku lakukan hanya meratapi tuisanku, bahkan satu-satunya tulisanku dalam bentuk novel ini, dan sesekali terisak ketika itu. Terperanjat tentunya diriku menemukan penerbit itu menerbitkan sebuah novel yang merupakan hasil karyaku, tetapi tidak dengan namaku. Bahkan aku tidak tahu menahu dalam rekayasa ide yang mereka lakukan ini.

“Bukan Galang Pamungkas yang tampil sebagai nama penulisnya! Padahal, dilihat ratusan kali pun tetap sama! Ini tulisanku!”, gumamku semakin sebal.

Hanya beberapa kata dan kalimat yang sedikit disulap dengan bentuk yang lain. Namun, tetap saja, judul novel, tokoh, alur cerita, dan hal lain yang menjadi unsur-unsur sebuah novel, itu semua adalah ide gagasanku.

Spontan aku ambil handphone-ku dan ku hubungi editor penerbit tersebut.

“Assalamu’alaikum… Dengan Harun bisa dibantu?”

“Wa’alaikumussalam… Mas Harun, masih ingat saya tentunya. Saya Galang Pamungkas. Yang tiga bulan lalu Mas Harun atas nama penerbit menolak hasil karya novel saya. Bisa sedikit beri aku penjelasan tentang novel terbaru kalian yang terbit? Judulnya Syahadat Surga, novel yang sama persis dengan novel buatanku. Namun, nama penulisnya tertulis Harun Zakaria”, kataku panjang lebar dengan nada agak marah.

“Oh, Mas Galang ya? Novel terbaru saya yang Syahadat Surga itu ya? Itu saya memang terisnpirasi dari tulisan anda. Tapi saya kemas dengan gaya bahasa saya. Ya… itu karena Mas Galang belum memiliki kapasitas sebagai seorang penulis. Ya sudah, maaf ya saya masih sangat sibuk. Ini jam kantor“.

Nada suara Harun berubah menjadi suara nada panggilan terputus.

“Eh, apa-apaan ini? Kok tiba-tiba diputus begini. Aku masih belum bisa terima hal ini”, geramku kesal. Ingin rasanya aku merobek-robek semua buku Syahadat Surga yang dipajang di etalase ini.

Tiba-tiba dua orang gadis belia mendekati etalase di samping tempatku berdiri. Terdengar sedikit percakapan mereka di telingaku.

“Kamu sudah baca buku ini belum? Bukunya bagus loh! Aku jadi termotivasi untuk memakai jilbab setelah membaca buku ini. Beli saja, aku yakin kamu juga suka”, kata seorang gadis dengan jilbab yang belum sempurna menutupi tubuhnya itu.

“Ah, masa’ sih? Oke deh, aku beli ini satu”, kata gadis satunya lagi yang masih belum memakai jilbab.

Rasanya aku ingin mengatakan pada kedua gadis tersebut, “Hey, aku yang menulis buku itu loh!”. Akan tetapi, rasanya ada rasa sakit yang menyayat hatiku. Bahwa jelas tertulis di buku itu nama penulisnya, ‘Harun Zakaria’. Namun, sebenarnya aku bisa memaknai hal ini dengan tanggapan yang berbeda.

“Harusnya aku senang. Seharusnya aku bangga karena tulisanku ternyata mampu memotivasi orang lain. Walaupun tulisanku dulu pernah dikatakan tidak layak terbit, setidaknya tulisanku tersebut layak baca”, batinku mencoba menenangkan diri sendiri.

Salah satu buku yang terpajang di etalase khusus novel-novel terbaru tersebut aku ambil satu. Buku tersebut masih tersegel rapi dengan plastiknya. Hanya ada dua buku dari masing-masing judul yang sudah terbuka segelnya, yang memang sengaja untuk dinikmati pengunjung.

Aku pun membeli satu buku yang aku ambil tadi dengan membayarnya di kasir.

“Wah, suka karya-karyanya Harun Zakaria ya, mas?”, tanya pelayan kasir tersebut, karena melihat aku membeli Syahadat Surga yang sebenarnya adalah karyaku sendiri. Belum sempat kujawab, mulutnya sudah mengeluarkan komentar-komentar.

“Novel-novelnya Harun Zakaria itu memang bagus sekali ya, mas! Saya saja koleksi lho dirumah. Yang terbaru ini sungguh sangat memotivasi. Saya saja seharian penuh bela-belain untuk menyelesaikan membaca buku ini”.

Aku tidak mau menanggapi, aku hanya mendengarkan saja. Aku hanya memberikan senyuman tipis dan anggukan dari komentar-komentarnya tentang karya-karya Harun Zakaria. Sekarang aku jadi semakin ragu, jangan-jangan bukan karyaku saja yang ia curi?

“Ini kembaliannya mas, soalnya selama satu pekan ini ada diskon dua puluh persen untuk novel Syahadat Surga ini. Terima kasih atas kunjungannya…”, kata kasir itu ramah.

“Sama-sama mba’…”

Setelah selesai membayar di kasir, kulangkahkan kakiku untuk pulang. Tidak sabar aku ingin mengganti nama yang ada di bagian cover buku ini dengan nama penaku, Galang Pamungkas. Aku harus luruskan niat kembali. Bahwa aku ini menulis bukan atas dasar yang lain, tapi hanya untuk-Nya. Bukan untuk sebuah kepopuleran, atau untuk uang. Akan tetapi, aku menulis untuk Allah. Walaupun terkadang aku ingin namaku tampil sebagai seorang penulis dan terpampang jelas di bagian depan cover buku. Namun, sepertinya belum diizinkan, belum saatnya barangkali.

Tiba-tiba saat aku hendak menuju pintu keluar aku melihat sesuatu. Seorang pemuda seumuranku yang berdiri di dekat etalase nampak sedang mengernyitkan dahinya dengan guratan amarah mewarnai wajahnya. Ia serius sekali memandangi sebuah buku yang ia pegang dengan kedua tangannya tersebut. Kemudian menyeletukkan sesuatu dan terdengar nyaring di telingaku.

“Ah, ini tulisanku! Tulisan yang selesai aku buat tiga bulan yang lalu! Kenapa diterbitkan? Padahal katannya tulisanku tidak layak terbit. Masya Allah… kenapa nama penulisnya bukan aku?”

—–

Farhan Hans

Jumat, 5 Februari 2010

Pukul 13.30

5 Comments

  1. Pengalama pribadi akhi??

    Bukan hanya 1 orang saja seperti yang ant maksud di cerita tersebut. Ada beberapa orang lainnya (penulis) yang sama akh. Ya, entah apa tujuannya.

    Kalo yang pernah saya temui seh mengenai editor yang mencantumkan nama dia sebagai penuliis. Nampaknya sama dengan cerita di atas. Tapi dia masih lebih baik akh, karena penulis aslinya dicantumkan pada karyanya. Semoga diberikan hidayah kepada orang2 seperti ini ya akh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s