Iskoola Pota

Mataku sembab. Aku seperti pedang hunus yang ambigu. Barangkali ribuan kilo jauhnya dariku, ada antrian sandiwara yang berpangku tangan di kastil-kastil biru muda. Pikiranku ganar. Batinku pun mengira ada ribuan demigod yang membabi buta di luar sana. Tentu saja. Aku hanya bisa berharap, bergumam kalau esok hari adalah lebih baik.

Senja mengatup, mirip orang yang menguap dan menutupinya dengan telapak tangan. Aku masih binar di dalam kamar. Aku paling masyhur di sini. Terkadang aku melihat tatapan kotak mesin bersulam lilin cerah mangadaptasi mataku. Aku tak berkutik. Jemariku seakan lepas melandai di antara tuts dan sebentuk binatang pengerat yang terhuyun-huyun bertuan.

Fokusku kini melambung dari balik biji tajam kembar. Sentuhan maestro mulai tampak ampuh menumbuk biang kronis. Dari situ aku menandai bintik-bintik yang berakumulasi menjadi repetisi garis. Menyulap sebuah sandi bentuk dalam semiotika masterpiece.

Namun aku masih bingung. Aku tak bisa meletakkan aksara lung yang menjerat kocah-kacih di dasar nadi itu. Mistis. Aku bergidik. Seutas Daun Pehn menyambar pandanganku. Tetapi gagal, aku surut dan buta. Tak hanya itu, Apple Juiced dan Hot Pizza juga menggoda rangsangan rongga mulut hingga batas kerongkongan. Aku berhenti, tapi tetap aku tak acuh lagi.

Lagi. Bahkan lebih parah. Chopper Black dan Chiller berpadu mengolok-olok kesabaran. Aku bersyukur Willy Wonka menyeret dan menjadi Athenaku kali ini. Membawaku ke ribuan Butterfly yang anggun dan jelita. Aku terpaku menatapnya. Di situ, berkali-kali aku ditawari sepatu Hermes yang menggiurkan oleh para Onyx. Aku hanya tak berucap. Setengah mau, setengah risih.

Di London Two inilah aku menepiskan kegalauan. Meski akhirnya aku harus menanam ribuan Kookster di sini. Tak mengapalah, aku memang benar-benar mulai bermuka dua sekarang. Apalagi ketika melihat WM Design dan Italian Mozaic Ornament. Menggiurkan sekali tentunya. Aku pasrah, aku tak punya andil untuk merajai keduanya.

Pada akhirnya aku tertolong. Shinji Blues mengenalkanku pada sesuatu hal yang aku cari-cari. Anjangsana bersama sesuatu yang bukan lagi menjumput di mataku yang nanar. Sekarang aku telah berhasil menemukannya. Iskoola Pota.

Ya, Iskoola Pota.

Sebuah tulisan teka-teki.

(Silahkan tebak sendiri. ^_^)

Farhan Hans

13/07/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s