DIKUTUK TIGA KALI

“Siapa orang itu, ya? Kenapa dia mengikutiku?”, batinku heran.

Jalan yang kulewati ini nyaris seperti tak berpenghuni makhluk hidup, berbusana hampa seperti biasanya. Suara-suara binatang malam sama sekali enggan berpentas untuk sekedar menghiburku. Setiap sekitar jarak 50 meter hanya ada lampu jalan yang segan benderang dengan memamerkan sosok remang-remangnya, dan mencoba melawan kegelapan malam. Bukan hanya itu, langit pun benar-benar tidak mau berkompromi, tampak begitu angkuh dengan warna hitam pekat. Bisa-bisanya bersekongkol untuk membuat rasa takutku memasuki puncaknya. Jelas saja, ini seperti adegan-adegan di film horor layar lebar. Hanya ada aku dan orang, atau lebih tepatnya sesuatu yang prasangka baikku mengatakan itu orang, yang entah sejak kapan terus mengikutiku.

Memang beginilah jalan menuju rumahku. Sebuah desa yang bisa dikatakan terpencil. Dengan balutan sawah-sawah yang menghampar serta jalan setapak berpernak-pernik kerikil, sangat cocok dengan predikat yang sudah terlanjur lekat tersebut, ‘desa terpencil’. Jujur saja walaupun sudah hampir 20 tahun aku mejamahi desa ini, tetap saja aku tak bisa menyembunyikan rasa takutku ketika malam tiba. Terlebih lagi kalau dengan sangat terpaksa aku harus berdebat dengan ketakutanku untuk berjalan mangarungi hamparan gelap malam di tengah pematang seperti ini.

“Kenapa aku jadi merinding begini, ya?”, pertanyaanku meluap lirih.

Aku tidak ingin berbohong untuk mengatakan bahwa malam ini sebenarnya tidak terlalu dingin. Hanya saja bulu kudukku tidak sependapat denganku. Padahal aku sudah paksa diriku untuk mengenakan kemeja lengan panjang agar bisa sedikit memunculkan keringat. Angin malam yang berhembus pelan pun juga tampak senang mempermainkanku. Sedikit-sedikit membelai manja leherku yang tak berbalut selembar kain, seperti tidak punya pekerjaan lain saja. Praktis hal ini menambah daftar kecocokan-kecocokan adegan di film horor. Emosiku pun semakin tak menentu. Untuk terbebas dari cekaman jalan sepi ini masih harus berkorban waktu sekitar 15 menit lagi, bagiku seperti 15 jam jika dengan keadaan yang tak ramah begini. Menyesal aku tidak mengiyakan tawaran menginap di rumah temanku tadi.

“Dia masih mengikutiku. Siapa sebenarnya dia? Aku tak bisa melihat jelas. Sekilas yang nampak, hanya sekelebat sosok orang yang tinggi besar. Ya kalo itu orang, kalau bukan…?”, batinku yang terus berkecamuk.

Sebenarnya aku ingin memilih lari, sambil berteriak minta tolong dan berharap orang-orang desa mendengar, lalu berbondong-bondong untuk menolongku. Namun, entah mengapa ada keberanian, atau barangkali lebih tepat dianggap sebagai kebodohan besar, yang tiba-tiba muncul dan mematik untuk mendekati orang itu saja. Toh kalau aku lari, dia pasti akan mengejar. Lagipula track record lariku masuk dalam nominasi kategori buruk, bahkan pernah mendapatkan juara terparah. Aku memang tak ahli ilmu spekulasi seperti ini, tetapi keyakinanku berbisik egois bahwa peluangku untuk lolos dari orang itu adalah nol persen.

Berbekal nekad, aku pun membalikkan badanku. Menegapkan cara jalanku, sembari memaksa kedua kaki yang gemetar untuk bergantian melangkah. Aku melihatnya, sekitar jarak 10 meter di balik pohon besar itu, dia mencoba menyembunyikan tubuhnya. Pikirku, untuk apa bersembunyi jika sudah ketahuan seperti itu? Perlahan, aku mencoba mendekatinya. Samar-samar kulihat sosok yang tinggi besar. Sebenarnya bukan karena aku ini penderita rabun sehingga tak bisa melihat dengan jelas, tetapi sudah pasti ini karena cahaya lampu yang pelit dan hanya membiaskan sedikit saja sosoknya ke mataku. Semak-semak di sekitar pohon itu tiba-tiba bergerak-gerak, sepertinya ia berusaha untuk menghindar. Pendengaranku memang masih waras, sehingga aku sedikit terbantu untuk mengawasi gerakannya. Akhirnya tinggal dua langkah lagi untuk mengungkap sosok aneh tersebut.

“Hey! Siapa kau? Tidak perlu bersembunyi seperti itu. Keluar saja!”, hentakku tegas.

Jujur jika boleh memilih, aku pun tidak ingin mengatakan kata-kata itu. Kalau dia benar-benar keluar, dan ternyata sosoknya bukan manusia, baru tahu rasa. Sudah yang kesekian kalinya aku menelan ludah sebagai wujud rasa takutku yang berkecamuk. Mukaku pun sudah dilumuri banjir keringat dingin yang keluar, dan berimbas sampai ke seluruh bagian tubuh.

Ternyata tetap belum ada jawaban setelah beberapa detik menunggu. Bahkan suara semak-semak yang tadi kudengar untuk mengawasi gerakannya, sudah tidak ada lagi. Kalau dia mencoba menghindar, seharusnya aku bisa mendengar suara gerakannya. Aku tetap terjaga untuk mengawasi, memfokuskan pandangan ke balik pohon, sembari ambil posisi menyerang jika tiba-tiba sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi. Lalu, kucoba dengan segala keberanianku untuk memergokinya. Dan…

“Hey! Sia… pa… k-k… Lho??? Tidak ada orang?”, aku bertanya heran.

Padahal aku yakin sekali dia ada disini. Dengan logika sehat, seharusnya ada orang di balik pohon ini. Tiba-tiba saja jantung normalku ini seenaknya sendiri memompa dengan cepat. Keringat dingin yang keluar membanjir kini nampak seperti tanggul air bah hujan yang jebol, bercucuran tak terkontrol. Gemetar merinding yang tadi masih bisa untuk aku tahan-tahan, kini seperti syaraf yang tak terkendali, benar-benar semua bagian tubuhku tidak ada yang mau diatur lagi.

”Jangan-jangan… yang tadi itu…”, ucapku lirih dengan bibir yang bergoyang-goyang gemetar.

Jauh-jauh aku coba buang pikiran horor tersebut. Sejenak kupoles akal sehatku. Kuamati kembali sekeliling, tetapi memang tidak ada orang, atau makhluk aneh apapun itu. Hanya ada diriku saja di sini. Akhirnya, aku berani mendeklarasikan bahwa ini adalah khayalanku belaka. Kutarik nafasku dalam-dalam. Mencoba menenangkan diri, lalu meyakinkan diriku lagi bahwa ini memang khayalan orang yang muncul ketika berjalan sendirian di gelap malam.

“Ini hanya imajinasiku saja ternyata.”, hiburku lega.

Aku tambah lagi cara untuk menghibur diri ini dengan menyeringai kecil, mengelus-elus dadaku, lalu kembali menarik nafas dalam-dalam sebagai isyarat lega. Menengadah ke atas langit, dan ternyata aku menemukan sebuah noktah kecil yang barangkali langit lupa untuk menutupinya. Yaitu sebuah bintang yang malu-malu menyapaku dengan kemilaunya. Seringai diwajahku pun berubah menjadi tawa kecil. Rugi rasanya sudah menakut-nakuti diri sendiri.

Aku pun membalikkan kembali badanku untuk meneruskan perjalanan pulang. Tiba-tiba……

”AAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH…………………!!!!!!!!!”

Spontan aku terkejut berteriak sekeras-kerasnya. Secara tiba-tiba muncul tepat didepan mukaku, berhadap-hadapan dengan batas hanya satu sentimeter. Wajah mengerikan bermuka rata yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tak dapat terelakkan, akhirnya aku pingsan.

***

Beberapa saat kemudian.

”AH!”, mendadak aku tersentak dari mataku yang terpejam lelap sebelumnya.

Mataku melotot tajam ke depan. Bukan, salah! Akan tetapi ke atas, aku dalam posisi terlentang saat ini. Aku terbaring di sebuah kasur yang melekat dengan lantai, tanpa ranjang yang menopang. Kulihat kanan, kiri, semua arah. Tidak ada orang sama sekali. Kesimpulanku mengatakan bahwa ini adalah tempat asing, aku sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Tidak ada satu pun perabot terhias di ruang yang bisa dibilang cukup untuk tidur 30 orang ini. Bukan hanya itu, ruangan ini sangat gelap. Hanya seberkas cahaya yang diam-diam menyelinap masuk untuk sekedar pamer bahwa ada terang di luar sana. Aku mulai mempertanyakan sesuatu, siapa gerangan yang membawaku ke tempat ini?

”Tunggu… tadi aku pingsan, ketika melihat……”, gumamku merinding setelah mengingat bagaimana aku bisa tidak sadarkan diri.

Tiba-tiba…

”Kau sudah sadar?”

Ada suara yang spontan membuat jantungku merespon dengan tersentak kacau. Jantungku nyaris copot sendiri. Organku yang satu ini nampaknya sudah bosan dengan kejadian-kejadian beberapa saat terakhir. Aku pun mencoba mencari asal muasal nada suara yang belum pernah masuk ke telingaku ini sebelumnya. Kutemukan ada sosok manusia berpose di dekat pintu yang bertengger di pojok ruangan. Namun, samar-samar aku melihat wajah itu, karena siluet cahaya dari luar membuat mataku silau. Sekilas seperti seseorang dengan kharisma yang menusuk kalbu, luar biasa hebatnya. Yang jelas aku belum pernah melihat orang itu. Paling tidak dia bukan sosok makhluk bermuka rata yang kutemui sebelum ini. Apa dia yang membawaku kesini?

”Ini! Bukalah kertas itu!”, perintahnya tiba-tiba.

Secarik kertas dilemparkannya kepadaku dari jarak kami yang hanya lima meter saja. Kertas itu dilipat berkali-kali menjadi kecil, sehingga membuatnya mudah untuk di lemparkan. Dengan nafsu penasaran yang bergemuruh, aku buka lipatan kertas ini secara brutal. Berharap ada kunci jawaban dari kejadian-kejadian ini.

Sudah terbuka. Dahiku mengernyit drastis. Aku heran dengan sebuah tulisan yang tertera di situ. Aku bolak-balik lipatan kertas yang telah terbuka ini, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak ada kata lain, selain hanya dua kata beriringan yang terjiplak lekat di kertas yang kusut karena lipatan ini.

”MOHON AMPUN”

Aku tak mengerti maksudnya. Kucoba memutar sedikit otakku, barangkali ada syaraf yang nakal di salah satu bagian otak sedang menyembunyikan arti jawaban teka-teki kata ini. Namun, sepertinya percuma. Tetap saja nihil. Lagipula aku sedang malas bermain kuis tebak kata. Aku rasa orang yang memberikan kertas ini jauh lebih tahu. Akan tetapi…

”Hei, dimana kau?”, tanyaku bingung keheranan. Tiba-tiba saja dia sudah menghilang dari posisisnya.

Aku segera bangkit dari kasur. Ingin mencari dan menginterogasi orang itu. Namun, tiba-tiba saja ruangan ini seperti mau ambruk, bergetar-getar layaknya gempa. Dinding-dindingnya menerbitkan retakan-retakan dan merapuh. Atap rumah pun seperti bergeser dan beberapa puing-puing sudah berjatuhan bak hujan meteor. Ini memang gempa! Kenapa mendadak begini? Aku segera berusaha mencari pintu keluar. Aneh! Karena ternyata pintu ruangan ini sekaligus pintu keluar. Namun ini bukan saatnya untuk kagum, yang penting bagaimana aku bisa meloloskan diri dari bangunan yang sudah kelaparan ingin melahapku. Aku tidak mau mati konyol di sini.

”Apa-apan ini? Kenapa mendadak ada gempa seperti ini?”, tanyaku heran.

Aku memang selamat. Posisiku berada di luar sekarang. Langit malam pun masih belum berubah pikiran, masih terlihat sombong untuk tidak mementaskan penduduknya. Satu bintang yang sempat tampak tadi, kini sudah benar-benar dikurung oleh warna hitam langit. Persis di depanku, aku melihat bangunan malang yang baru aku singgahi itu. Bangunan tua nan mungil tersebut, benar-benar sudah roboh menjadi puing yang berserakan. Aku pun merenung sambil mengatur cara untuk menstabilkan nafasku yang terengah-engah.

Seratus persen kunilai bahwa ini adalah tempat asing. Unik sekali, karena tidak ada satupun bangunan di sekitar sini, selain yang runtuh tersebut. Apa ini masih bagian dari desaku? Hanya ada tanah-tanah tandus yang menggersang disekitarku. Dari kejauhan aku bisa melihat pohon-pohon membentang mengitari tanah tandus yang luas ini.

”CUUUUUURRRRR………………..!!!!”

Untuk kesekian kalinya kehebohan muncul menguji jantungku. Belum cukup tenang dengan kondisi barusan, sudah ada lagi hal aneh yang menyapa. Entah kenapa tiba-tiba tandon air di belakangku bagian atas bocor mendadak. Airnya mengucur deras menyembur ke arahku. Untungnya ia masih toleransi untuk membiarkanku tidak basah kuyup.

Aku memperhatikan seksama tandon air ini dengan sedikit umpatan yang reflek keluar dari rongga mulutku. Kucuran airnya masih mencoba untuk mencipratiku dari atas. Pandangan mataku dari bawah mencoba menyoroti tajam tandon air ini. Tak sengaja, ada tulisan yang menohok mataku dan menjejali indera penglihatanku ini dengan kata-kata yang tertera di tandon air tersebut.

”AIR SUCI”

Otakku merespon untuk tidak menafikan agar mencari maksud dari tulisan tersebut. Dahiku mulai tampak serius dengan gaya mengernyitnya. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat sebuah jawaban muncul mampir ke otakku. Daftar kebingunganku mulai penuh, sepertinya butuh lembar baru untuk menampungnya. Bagaimana tidak? Malam ini merupakan malam yang penuh dengan teka-teki. Satu pun belum ada jawaban yang singgah untuk mengobati rasa penasaranku.

Lagi-lagi, aku disuguhi terapi kejutan yang kian membludak. Efek gempa tadi masih mencoba untuk merayapi rasa takutku. Kegelisahan yang sedari tadi berbanding lurus dengan ketakutanku mulai meningkat lagi. Bumi kembali bergetar, mencoba menggoncangkan tubuhku dengan gempanya. Tanah-tanah di sekitarku mendadak menampilkan keretakan di sana-sini.

”Kiamat! KIAMAT!”, seruku ketakutan.

”Hei, kau! Kemarilah!”, teriak seseorang tiba-tiba.

Aku mencari sumber panggilan itu. Ternyata dia adalah sosok orang yang muncul ketika aku terbangun tadi, terlihat dari kharismanya. Dia berdiri dari jarak sekitar lima puluh meter di depanku. Entahlah, darimana ia bisa muncul lagi secara tiba-tiba begitu.

Aku tak sempat untuk mendiskusikan hal ini, kepanikan sudah merajai seluruh ragaku. Tanpa pikir panjang aku segera beralih menuju ke arahnya. Naas, tanah di depanku sudah meretak lebar dan memamerkan sedikit isi bumi, aku kebingungan mencari jalan untuk menghampirinya.

”Celaka! Aku pasti mati! Bagaimana ini?”, teriakku semakin panik.

”Tenanglah! Kau belum akan mati! Dengarkan aku, bukalah kotak masuk handphone-mu, ada pesan singkat baru!”

Tentu saja aku terperanjat kaget, aku ingat bahwa aku punya alat komunikasi itu. Aku meraba-raba kantong-kantong baju dan celana. Ya, memang ada, di kantong celanaku. Padahal aku merasa tidak pernah membawanya.

”Bagaimana kau bisa tahu aku membawanya? Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?”

”Buka saja! Baca pesan tersebut!”, perintahnya santai.

Memang ada pesan baru yang masuk, bagaimana dia bisa tahu nomorku? Aku kenal dia saja tidak. Masa bodoh! Rasa penasaranku berhasil menghipnotisku untuk menuruti kata-kata orang yang tak kukenal itu. Aku buka pesan itu, dan… Hanya ada satu kata.

”SEMBAHLAH”

Aku benar-benar emosi. Ini bukan kuis tebak kata bukan? Kenapa sedari tadi kata-kata aneh muncul untuk mempermainkanku? Otakku sudah semakin malas untuk berpikir, apalagi di antara hidup dan matiku sekarang.

”Apa maksud semua ini? Siapa kau sebenarnya?”, tanyaku dengan nada memaksa dan emosi.

”Kau sedang DIKUTUK! Kau DIKUTUK TIGA KALI!”, jawabnya sedikit serius.

Aku menganga, memelototkan pandanganku ke arahnya. Tidak tahu maksud kata-katanya itu. Dikutuk bagaimana? Sama sekali tidak lucu bahan bercandaan orang ini. Sempat-sempatnya dia melawak di batas kematiannya. Dia juga pasti akan mati, sama sepertiku. Bumi sudah mulai melahap benda-benda mati dengan mulutnya yang berada dimana-mana.

”Apa maksudmu? DIKUTUK? Aku dikutuk?”, tanyaku masih bingung.

Aku termenung mematung menatapnya. Mataku masih melotot tajam. Mulutku juga belum bisa terlepas dari keterlenaannya untuk menganga lebar. Gemetar juga tak mau kalah untuk menggelayuti tubuh yang kaku ini. Bersamaan dengan itu, sang bumi sudah menunjukkan kepiawaiannya memainkan gempa. Terlihat dari banyaknya retakan yang semakin melebar. Hampir semua yang kulihat sudah dilahap nikmat olehnya. Tinggal menunggu giliranku serta orang itu. Langit pasti juga akan runtuh sebentar lagi.

Sudah dimulai, retakan dibawah kakiku mulai buas menganga. Tidak bisa menghindar lagi, karena sudah tak ada alas yang rata untuk aku pijaki. Aku pun terjatuh tertelan bumi.

”AAAAAAHHHHHHHHH………………………….!!!! TOOLOOOOOOONGG………….!!!”

Tidak ada yang mendengarku. Tidak ada yang menolongku. Tidak ada yang mendengarkan teriakanku. Tidak ada yang menolongku dari mimpi buruk ini. Mimpi buruk?

”AHHH!!”

Aku tersentak bangun, nafasku tak berhembus normal, aku terengah-engah. Jam yang berdetak lirih mengundangku untuk melirik ke arahnya. Lokasinya sudah kuhafal dengan baik. Dengan bentuknya yang kotak kecil, ia berdiri gagah di meja samping kasurku. Berdiri menantang ke arahku, sambil menunjukkan ketiga jarumnya yang asyik bermain-main diantara angka-angka. Yang paling panjang seperti sedang bergumam pelan dengan angka dua belas. Jarum yang agak pendek lebih memilih bermain bersama angka tiga. Sedangkan yang paling kurus tampak sibuk berlarian memutar mengelilingi angka-angka yang lain, bak seorang model melenggang di atas catwalk, membuat terpesona angka-angka yang hanya bisa terpaku memandangnya.

Ya, jam tiga malam

—-

Farhan Hans

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s