AMBURADUL MAYAPADA

Ternyata aku tak punya nyali lebih besar daripada dedaunan gersang. Dia pandai sekali menyapa manusia dengan baluran ranggas. Mereka mengabarkan kepada manusia dan berkata lantang, “Hei, tahukah kau, sekarang musim kemarau!”.

Aku hanya bisa terkekeh. Lucu sekali mendengarnya. Dedaunan itu gila atau apa lah. Padahal mereka itu masih untung bisa menggelantung masyhur di ranting. Sedangkan aku? Nasibku seratus juta kali lebih buruk daripada mereka. Tapi mereka malah melawak. Bagaimana mungkin bisa berkata musim kemarau, tapi kemarin saja baru hujan? Bukan lebat sih, tapi toh gerimis itu juga hujan kan? Rintik-rintik yang turun memakmurkan bumi juga hujan kan? Dedaunan itu bohong kan? Tapi kenapa hanya aku yang terkekeh? Kenapa kalian lebih percaya pada dedaunan?

Kemudian aku menyelinap di antara langkah-langkah dengan tapak yang bedebam aneh. Aku biarkan saja. Aku kesal. Kenapa hanya aku yang terkekeh? Sang bayu beberapa saat sebelum ini datang mengusikku. Ia belum letih membimbingku. Ia menemani aku pergi dalam perantauan tanpa arah ini. Ah, kau memang sobatku! Aku tidak akan punah hanya karena manusia percaya pada dedaunan!

Seketika aku meluncur menikmati limpahan air yang bergemerisik indah. Wah, senang sekali aku. Ternyata memang dedaunan itu bohong! Buktinya kau ada, kau tirta kan? Kau tampak nyata sekali. Asyik sekali menguyur-guyur seperti itu. Apa itu artinya kau membelaku? Kalian pasti juga tidak percaya pada dedaunan itu kan? Ah, segar! Kalian penawarku. Memang sih hari ini panas sekali. Tapi kan bukan berarti kemarau! Kemarin baru saja hujan! Sungguh, kemarin hujan!

Aku kembali melanjutkan perjalanan. Di beberapa lintasan jalan. Aku masih melihat manusia terhipnotis kata-kata dedaunan. Bukan cuma itu, warga botani yang lain malah sekarang sudah setuju angkat tangan dan berteriak sepakat! Sesak sekali rasanya mengetahui hal itu. Aku merasa dihianati. Aku ingin menangis, berteriak. Ingin aku merobek-robek daun-daun yang bagiku kurang ajar, entah lalu membuangnya ke tempat sampah atau apa, yang penting aku bisa melampiaskan kekesalanku. Tapi apa daya aku? Siapa aku?

Masih dalam genangan emosi, aku diam sejenak. Untuk beberapa bilangan menit ke depan aku diam terpaku. Tak ada bayu. Beberapa waktu yang lalu ada yang butuh bantuannya dan dia menolongnya. Aku sempat cemburu, kendati toh aku biarkan juga. Tak ada pula tirta. Aku tak bisa menikmati keasyikan mereka bersama-sama lagi. Bagi mereka, jika aku lama-lama di sana, maka petaka yang akan datang. Tapi toh mereka tetap baik padaku. Lalu aku harus kemana?

Siang masih betah menyandang gelarnya yang panasnya bukan main. Aku merasa ada kongkalikong antara langit siang dengan dedaunan. Sesak lagi dadaku. Bagaimana bisa? Aku tak pernah bohong sebelumnya, kemarin itu hujan! Apa aku terlalu buruk rupa sehingga mereka lebih percaya pada dedaunan yang anggun itu? Ah, mereka itu selalu lahir sempurna. Kalau aku boleh meminta, aku ingin ada gerombolan ulat bulu yang bisa menyantap mereka habis-habisan. Tapi aku tak pernah melihat itu. Yang ada mereka semua sudah bertransformasi menjadi kupu-kupu jelita. Yang bahkan aku juga tahu, mereka terkadang juga bermesraan bersama dedaunan. Aku cemburu! Malang benar nasibku!

Dari balik teralis sengatan terik. Aku tak kunjung mendapatkan perhatian. Aku sangat menjijikkan bagi mereka. Yang ada hanya debu-debu panas yang liar sesekali modar-mandir mengelupas inderaku. Teroris mereka itu! Aku benar-benar tersudut. Aku tak berkutik di jalanan ini. Aku bahkan lupa siapa yang pertama kali membuangku di jalanan.

Waktu mengikis sanubari secara perlahan. Hari ini tak ada hujan. Bahkan mendung saja tidak. Aku dikelabui oleh cuaca. Darahku memuncak tinggi. Aku sesak berkali-kali. Ini sihir! Ini sihir! Dedaunan itu yang menyihir! Tidak mungkin hari ini tidak hujan. Aku tak bisa terima kenyataan ini. Benar-benar tak tahu diri dedaunan itu! Aku melihat ke langit, tetap sama. Hanya terpintal di pelataran biru itu kapas-kapas putih yang terbang mengangkasa. Terbesit dalam benakku, aku harus memanggil para cummolonimbus untuk menurunkan hujan! Tapi bagaimana caranya?

Tiba-tiba saja dari kejauhan aku mendengar rintihan. Kasihan sekali. Aku tersadar, mereka teman-temanku! Seiring dengan itu, aku menerawang sosok kepulan asap hitam membumbung tinggi. Mereka menyembur-nyembur di udara langit. Jangan-jangan… Tidak mungkin!

Kebakaran! Kebakaran! Tirta! Di mana tirta? Hujan! Kenapa hujan tidak turun? Tolong mereka! Tolong! Kenapa manusia itu diam saja? Kenapa mereka tak peduli? Penyiksa! Kalian manusia penyiksa! Mereka itu teman-temanku! Kenapa bukan dedaunan saja yang kau bakar! Mereka itu kan pembual!

Aku sangat sedih. Aku terpuruk. Sungguh tak habis pikir, semudah itukah bagi mereka berbuat seenaknya? Semaunya bagi mereka, untungkah bagi kami? Aku hanya bisa diam di sini. paling tidak aku masih beruntung bisa bernafas lega. Belum hilang kesedihanku. Kemudian aku melihat sesosok manusia yang tak kalah ambisius dan angkuh. Lagi-lagi kaumku yang menjadi korban. Mereka ditimbun! Bayangkan! Dikubur hidup-hidup di tanah! Apa manusia itu tak pernah berpikir? Kami tak bisa hidup di tanah! Kami tak akan terurai di sana!

Sungguh, aku terpukul sekali melihat kenyataan ini. Dadaku tak kunjung behenti dari sesak. Lagi-lagi, aku hanya bisa diam membisu. Mereka itu perusak lingkungan! Ah, jangan-jangan para cummolonimbus tidak mau datang gara-gara mereka? Asap-asap itu, mereka ibarat sesaji untuk mengusir para cummolonimbus. Bukan, mungkin bukan mengusir. Tapi itu racun yang membuat para awan itu kebingungan. Sehingga mereka tak tahu lagi di mana tempat mereka sebenarnya. Hujan kemarin, itu juga pasti karena para cummolonimbus sedang bingung. Ironis! Begitukah balas budi manusia? Itu yang membuat mayapada amburadul! Tak sadarkah kalian wahai manusia?

Sejenak kemudian, aku melihat seorang gadis cilik. Manis sekali wajahnya, seperti permen yogurt strawberry. Aku perlahan memastikan gerak-geriknya. Ia melangkah riang. Ia menuju kemari. Ia menghampiriku. Ah, aku senang sekali ada orang yang akhirnya memperhatikanku. Seakan kini aku lupa peristiwa yang baru saja menimpa para kaumku. Gadis itu menyipitkan matanya, persis di depanku. Aku gugup. Aku berharap dia bukan orang jahat.

Tak lama, ia pun membawaku pergi. Ya, tangannya lembut. Ia sama sekali tak angkat bicara. Ia hanya diam. Kami hanya diam selama beberapa saat. Kami seperti dua sejoli yang sedang malu-malu kucing berduaan. Aku jadi malu sendiri. Ia tak menyadari jika mukaku memerah padam sekarang.

Namun, sungguh aku tak tahu, sama sekali tak tahu, ia akan membawaku ke mana? Ah, entahlah. Ku rasa dia orang yang baik. Pasti itu. Sambil masih memegangku dengan tangannya yang lembut, jujur aku tak bisa membedakan kelembutan tangannya dengan lembutnya sutra, ia tersenyum-senyum simpul. Aku benar-benar seakan sedang di bawa ke surga.

Aku masih belum sadar ia akan membawaku ke mana, setelah kemudian aku melihat sesuatu dari jarak yang tak jauh lagi. Aku tersentak! Aku kaget sekaget-kagetnya! Sontak membuat jantungku hampir copot! Aku meronta. Ku mohon, jangan ke sana! Aku belum mau mati! Aku masih ingin menikmati hidup! Aku mohon jangan ke sana! Gadis itu tetap berjibaku dari aku yang meronta. Bahkan aku mendengar para dedaunan bergemerisik ria seperti sebuah tawa hina bagiku. Kami semakin mendekat ke sana. Dan akhirnya pun kami tiba. Ini akan menjadi akhir perjalananku. Setelah ini, aku tak tahu, neraka atau surgakah yang akan ku huni.

Benda itu melambai-lambai menyapaku. Seolah-olah ia sudah siap melahap hidangannya. Sebuah tong besar yang aku selalu menganggapnya sebuah kuburan mistis. Tidak ada nisan yang bertuliskan tanggal atau apapun di tong itu. Tapi ada tulisan lain. Dua tulisan saling tindih atas bawah.

“BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA”.

“SAMPAH PLASTIK BUANG DI SINI”

This is a message from ‘plastic trash’. This is created for advise people. Hey, you should to know, the climate has been changed!!! Global warming is arround us. What have you done to prevent this? Less talk, do more! Let’s go green!

Farhan Hans_26 Juli 2010_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s