MENARA ISTIQOMAH

Menara istiqomah berdiri tegak menantang langit,

tinggi semampai menyentuh tembok angkasa.

Untuk mencapai puncaknya, ada ribuan bahkan jutaan anak tangga yang akan siap menuntun.

Setiap anak tangga yang kau jejak adalah ujian.

Adakalanya, atau barangkali sering, pada anak tangga yang kesekian akan membuatmu terpeleset jatuh. Itulah kita, manusia.

Dan kita diperkenankan untuk bangkit lagi, kembali menapaki anak-anak tangga yang tak akan pernah habis guna berantusias menggapai puncak.

Bahkan kau pun boleh memilih untuk sejenak melepas penat, dengan duduk di salah satu anak tangga itu.

Atau kalau mau, kau pun bisa memilih untuk turun kembali ke lantai dasar, meski itu adalah sebuah pilihan yang sangat tidak bijaksana.

Begitulah menara istiqomah, ia akan selalu hadir dalam kehidupanmu. Ia laksana terorisme kebaikan yang akan senantiasa memprotesmu, yaitu di kala kau mulai melemahkan potensi keimananmu.

Dipuncaknya, terpampang jelas indahnya surga yang kekal, abadi tak terganti. Maukah kau mengunjungi puncak menara istiqomah itu?

Teramat sering kita meletakkan kepastian akan ibadah dan amal-amal yang kita perbuat, akan tetapi ternyata itu palsu. Kita selalu menaruhnya pada peringkat tertinggi, dan membuatnya menjadi prioritas kebaikan yang selalu dijunjung rapi dalam hidup. Namun kita tak tahu, jika ternyata itu semua palsu.

Ironis jadinya. Saat yang dianggap baik, malah tercatat di lembaran amalan buruk oleh malaikat. Menyebabkan coretan-coretan amal baik menjadi terhapus. Nelangsa tentunya, apabila pahala-pahala yang tadinya bisa berkibar hingga membelah langit, ternyata malah menjadi uap yang mengepul dan turun lagi ke bumi sebagai bencana. Maka ada baiknya kita meneliti kembali. Bagaimana bisa, segala amal kebaikan yang telah kita lakukan, malah membahayakan diri kita sendiri?

Dari awal sebaiknya kita mengerti, bahwa hidup selalu memiliki landasan-landasan yang kuat untuk berjuang. Fitrah abadi manusia yang jalan beriringan membaur bersama keimanan dan ketaqwaan. Mudah ketika seseorang mengaku beriman, meyakini akan keberadaan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun sulit berikrar taqwa, ketika yang terjadi adalah fenomena taqwa memang telah tererosi di bukit-bukit pada jalur keimanan yang telah terbentuk. Lalu, bagaimana kita mengindikasikan kebaikan ini menjadi suatu amalan yang berharga? Semahal harganya ketika kita melakukan sebuah rutinitas ibadah yang menuntun kita untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Naluri untuk sombong, untuk dipuji orang lain, untuk ingin dihargai, ternyata telah mengambil peran dalam mengikis itu semua. Lumbung-lumbung pahala seakan menjadi tidak berguna. Menyemai ladang pahala sudah tak bisa dilakukan lagi, barangkali bahkan tak pernah dilakukan. Uluran-uluran tangan seolah hanya jembatan semu yang tak pernah bisa mengantarkan menuju surga. Landasan kebaikan tersebut bukanlah kebaikan, namun landasan kebaikan itu adalah riya’. Itulah kenapa, tak satupun buah segar dapat diambil dari jutaan pohon yang sudah ditanam semenjak bertahun-tahun lamanya. Terlebih sering itulah yang kita alami di sini, di dunia yang fatamorgana ini.

Meskipun begitu, ada satu hal yang demikian jarang untuk kita sadari. Ialah teramat sangat pemurah Allah SWT itu, selalu memberikan kita sebuah kesempatan. Lagi, dan lagi. Klausa Ar Rahman tak hanya dijadikan rujukan bagi kita yang ingin bertaubat. Namun, dengan penuh pengharapan akan ridho-Nya, kita akan bisa berpijak lagi pada yang haq.

Kita telah dipilih untuk terjun dalam pertempuran kehidupan. Kitapun telah berkata sanggup untuk menghadapinya. Tentu ada pemenangnya di sana, yaitu di kala yang lain menobatkan bahwa dirinya telah gugur. Maka itulah dia pemenangnya. Ya, itulah mereka yang istiqomah. Mereka berhasil mengambil saripati keluhuran akhlak, ditemani nurani iman yang membahana, maka mampu menyebabkan runtuh semua bisikan-bisikan kemaksiatan. Itulah mereka yang telah berhasil menaklukkan menara istiqomah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s