KOMPOSISI PAHAM

Terkadang aku seakan telah paham. Ketika langit seharusnya berkilau menyandangkan mentari untuk bersinar, seharusnya aku paham. Ketika malam berbintang menyemai hatiku yang gersang. Bahkan ketika aku menghirup udara bebas tanpa aku harus membayar setiap hirupan itu. Maka ketika itu adalah saat dimana aku merasakan nikmat. Sehingga betapapun aku tak pernah meminta, aku telah diberi. Dan sesungguhnya aku memahami itu.

Seakan rasa paham tak sering menerpa batas logika. Saat menjadi bagian dari cobaan, ternyata itulah yang bernama karunia. Ketika aku terus melakukan kesalahan, aku selalu menerima amnesti dari-Nya. Saat imanku menjadi taruhan atas dasar aqidah yang esa, aku yakin dengan hal itu. Bahwasanya itu karena aku telah paham.

Dan salah satu bagian yang penting sungguh membuatku semakin paham. Ketika sesungguhnya dunia ini tak lebih indah dari surga. Namun seringlah kali aku menuai harap bahwa inilah surga. Tapi aku sungguh paham, sedikit cinta dan harapan telah mengantarkan jiwa-jiwa ini untuk terbang bersama menuju surga yang sebenarnya. Itulah nikmat, dan aku pun telah paham.

Sebaik dan seindah ketika aku menganggap setiap muslim adalah saudara. Melilitkan tali yang tak pernah berbusur, namun ia selalu menancap pada hati setiap insan yang merindu kasih dan cinta dari Allah dan rosul-Nya. Bersinar bagai lentera-lentera suci yang membuat surga semakin putih karenanya. Dan yang begitu pun aku telah paham. Karena hakikat yang benar memanglah kita ini telah dan akan selalu bersaudara sejak lahir, meskipun tak pernah kita ini serahim.

Benakku semakin sadar untuk paham. Lebih karena sesuap nasi menjadi begitu mahal harganya. Dengan separuh tenaga mengais rejeki yang kiranya masih terhampar hingga di bukit-bukit sampah. Itu karena ajaran untuk paham. Menonton reklame-reklame saling tumpah tindih di atas tangan yang menengadah. Sama saja, itu karena aku yang memahaminya.

Aku juga beranjak semakin paham. Kasih tak akan pernah terbagi ketika itu datangnya dari kedua orang tua. Menyebabkan trauma kesenjangan punah merata akibatnya. Dan dengan begitu aku paham. Mereka akan selalu mengulurkan tangan, membuat kita tak perlu berteriak untuk minta dikasihani. Mereka tetap akan merangkul dengan belaian yang tak pernah terganti meski dicari ke ujung bumi. Terlebih adalah sebuah otoritas untuk paham.

Aku terpaksa harus paham. Ketika itu datangnya dari sebuah jalan juang. Bahwa perjuangan tak akan pernah berbatas. Dan ketika seandainya pun aku seorang diri berjuang, maka aku sedang berjuang didampingi Allah. Makna paham yang sungguh meningkatkan sebuah manifestasi iman. Derajat taqwa yang bersimbol agama. Ibadah, akhlak, dan keperibadian akan sosok seorang muslim sejati.

Itulah kenapa, al fahmu menduduki peringkat terbaik pertama untuk menuntun langkah kita. Di saat kita seharusnya terpuruk dalam kubangan dosa, separuh dari raga dan jiwa ini selalu berseru, bertindak untuk segera menyelamatkan kita. Tentunya pula hal itu yang kemudian mengabadikan kebaikan dalam setiap jejak-jejak yang akan tesusun rapi, oleh aku, oleh engkau, oleh kita, yang selalu paham akan makna kehidupan.

Komposisi paham, demikian adanya. Sebab kenapa kita harus paham, memang demikian baiknya. Aku paham, berarti aku mampu memilih langkah bijak ke depan. Ketika semua komposisi paham terbentuk, agama bukanlah formalitas, melainkan syariat. Memeluknya bukan berarti menggenggamnya saja, yang kemudian suatu saat bisa saja terlepas karena lelah menggenggam. Atau yang kemudian akan lepas, karena tak kuat lagi untuk menggenggam. Ya, itulah kenapa ia seharusnya diletakkan di dalam hati, pusat segala hasrat. Yang mampu menemani untuk segala bentuk pilihan, antara baik dan buruk.

Komposisi paham, akan selalu baik adanya.

Untuk kita, yang selalu merindu surga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s