Aku Cacat, Ragu Tuk Melangkah…

“Jalan ini berat…” Itu yang pernah dikatakan oleh seorang teman melalui tulisan SMS. Hanya tulisan itu yang termaktub dibarisan karakter yang semestinya bisa mencapai 160 dalam hitungan 1x SMS. Aku mendalaminya. Mengamati dengan seksama dan menaruh sedikit kebingungan.

Ya. Kita tak pernah berjalan dengan tanpa tertatih. Itulah kawan, saat dimana kita lelah, pundak kita mengeluh, dan kaki kita meminta untuk istirahat. Kemudian kita pun berhenti sejenak, mengambil nafas, memberikan penawar pada dahaga, dan menerawang kembali dalam sepi yang sangat jauh. Dan dengan fasih menambahkan klausa beriringan dengan kalimat pertama tadi, “Jalan ini panjang”… begitulah. Dan memang begitu.

Kawan, namun kita tahu, kita tetap harus melangkah meski jalan ini berat, maupun panjang. Aku, kamu, kita semua, telah memilih sebuah jalur yang berbeda-beda untuk kita tempuh. Bercabang-cabang panjang seperti melewati labirin. Mungkin kita tak pernah tahu dimana ujungnya, kendati kita pernah mengharapkan sebuah ujung yang sama. Barangkali, kita hanya melangkah dengan sedikit sekali tata krama kehidupan dan risalah akhirat untuk dijadikan sebagai pedoman, walaupun tak jarang juga kita tersesat, terjerumus dalam kubangan kelam.

Andai kau memiliki empat kaki, apakah kau yakin kau mampu menempuh jarak yang lebih jauh dan lebih lama dari apa yang telah kau tempuh sekarang? Mengapa kau tak lebih mengkhawatirkan beban tubuhmu yang bertambah karena harus membawa dua tambahan anggota tubuh baru tersebut? Itulah yang sering kita keluhkan. Menginginkan sebuah bantuan datang pada kita, mengharapkan sebuah pertolongan mampu membantu kita untuk melangkah. Namun kita jarang memperhitungkan, berapa banyak materi yang akan kita keluarkan ketika kita menerima bantuan itu, atau berapa banyak perngorbanan yang harus dikeluarkan oleh kita?

Pengorbanan. Barangkali itu memang kata yang cocok. Untuk mendapatkan sesuatu yang lain, kita pun harus rela kehilangan sesuatu yang lain pula. Ketika kau sedang berada di dalam bus, dalam sebuah perjalanan, dan duduk pada deretan bangku sebelah kanan. Maka kau hanya akan didominasi untuk menikmati pemandangan di sisi kananmu, dan harus rela untuk tak melihat keindahan lain yang ada di sisi kiri. Bisa jadi pemandangan sisi kiri lebih indah dari sisi kanan. Itulah pilihan. Dan itu hanya contoh sederhana. Tentunya ada lebih banyak pengorbanan-pengorbanan besar yang telah kau keluarkan dan lakukan selama kau habiskan waktu di dunia ini. Nah, maka pikirkanlah, renungkanlah kembali, apakah pengorbanan yang telah kau lakukan telah mampu mengantarkanmu pada kebaikan-kebaikan yang sesungguhnya? Sudahkah hal tersebut sesuai dangan apa yang kau dan lingkunganmu harapkan? Atau hanya semata-mata sebuah ambisi dan keeogisan yang ingin kau lampiaskan?

Kawan, jika kelemahanmu membuatmu ragu untuk melangkah, maka gunakanlah kelebihanmu untuk berlari. Gapailah mimpi-mimpimu. Sekarang atau tidak sama sekali. Karena, kita sadar ataupun tidak, setiap diri kita memiliki kelemahan. Tak jarang dari kita yang memvonisnya dengan sebutan cacat. Padahal kawan, dibalik kelemahan tersebut, lagi-lagi, sadar ataupun tidak, telah diciptakan sebuah bahkan bermacam kelebihan untuk menutupinya. Namun kita sebagai manusia, terlebih sering mengutuki kelemahan kita, serta menyesali keburukan-keburukan yang telah kita perbuat. Parahnya, tak sedikit diantara kita yang tak mau memupuk potensi kelebihan yang ada dalam diri kita. Dan inilah yang disebut sebagai “Kalah Sebelum Bertanding”.

Hanya ketika kita paham sebuah ayat yang indah terpatri di dalam qur’anul karim, “Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kau dustakan?”. Begitulah terjemahannya. Hingga ayat tersebut diulang-ulang mencapai 31 kali dalam surat Ar Rahman. Bukanlah sebuah ayat jika ia muncul tanpa sebab-sebab. Mengapa kita masih nyaman menghirup udara segar, mengapa kita masih nyaman makan tiga kali sehari, mengapa kita masih merasa aman berjalan kaki menuju ke tempat aktifitas kita? Dan jika kita runut, sedari kita masih dalam bentuk janin, hingga saat ini, rasa syukur kita terlampau kurang untuk ukuran nikmat yang telah Ia berikan. Fabiayyi aalaa irabbikuma tukadziban…

nee hito wa doushite kurikaeshi ayamachi wo kasaneteku? shinka shinai dare ni mo nagareru kono chi ga daikirai

(transleted) Hey, mengapa orang-orang mengulangi kesalahan mereka, menimbunnya satu sama lain? Aku benci darah ini yang mengalir di tengah orang-orang yang tak mau berubah

_OST Gundam 00, “Daybreak’s Bell” by L’Arc ~en~Ciel

Kawan, potensimu adalah sebuah kelebihan yang mampu mengantarkanmu pada mimpi-mimpi besar yang telah kau buat dahulu, dan saatnya kini untuk mewujudkannya. Sebuah proyek besar untuk dunia dan akhirat. Kawan, berbenahlah sekarang juga. Sebagian tanda-tanda kebesaranNya ada pada dirimu. Dan di luar sana telah banyak orang menanti sesuatu yang istimewa untuk dilakukan olehmu. Jika kau hanya duduk santai, hanya sebagai penikmat, maka kau telah menyia-nyiakan potensi yang telah Ia berikan padamu. Yakinlah bahwa kau bisa meski kau hanya sendiri. Percayalah jika tau tetap bisa melakukannya meski kau tak didampingi siapapun. Allah telah memberikan kelebihan itu padamu. Carilah, galilah, pupuklah, hingga kau mampu menjadi orang yang hebat! Mengabarkan kebaikan dari potensimu hingga ke penjuru dunia!

Man Jadda Wajada!

Sou Tashika ni kimi no iu toori da yo Ima nara hikikaeseru keredomo Tsumaranai iji wo haritsuduketeru Arukihajimeta ijou akiramenai Mou ichido kono te ni chansu wo…

(transleted) Jadi, tak diragukan lagi kau benar Meskipun sekarang ini aku mampu mencoba untuk kembali Dan aku tetap keras kepala untuk itu, meski itu monoton Aku akan mulai untuk berjalan lagi, sekarang ini bahkan lebih jauh, dan aku tak ingin menyerah Andai aku bisa mendapatkan satu kesempatan lagi…

_OST Gundam SEED, “River” by Tatsuya Ishii_

——

Regards,

Farhan Hans

9 Januari 2011

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s