Filosofi Maaf Dalam Islam

“Aku ingin menjadi penyabar seperti Rosulullah SAW, seperti ketika beliau begitu sabarnya menyuapi pengemis buta lagi tua yang selalu mengolok-olok Rosulullah SAW. Aku ingin pula menjadi pemaaf, sebenar-benar pemaaf, seperti ketika beliau memaafkan perbuatan istri Panglima Quraisy Abu Sofyan, yaitu Hindun, yang melalui Wahsyi, ia membunuh Hamzah, paman Rosulullah. Bahkan ketika Abu Sofyan dan istrinya masuk Islam, Rosululloh SAW masih tetap memperlakukannya dengan baik. Sungguh mulia akhlak Rosulullah SAW.”

Sobat, bulan Ramadhan segera berakhir. Barangkali seperti sebuah teater pertunjukan agung, sehingga kita tak ingin untuk segera diakhiri. Bahkan sangat merugi tak menikmatinya hingga di detik-detik garis akhir ini. Namun, ternyata Syawal di depan sana juga telah membuat sebuah pergelaran dengan posisi menyapa yang kita pun tak bisa tinggal diam untuk tak bersama menyapanya. Jelajah wisata ruhani kita di bulan Ramadhan segera akan menemukan titik akhirnya. Simfoni Syawal yang penuh harmoni memaafkan seperti gerbang surga yang penuh kedamaian. Dan kita terbang menuju gerbang pintu itu dengan sayap pelangi cendrawasih yang begitu megah. Subhanallah… Akankah kita melewatkan moment tersebut sobat?

Hegemoni 1 Syawal begitu sporadis di negeri ini, bahkan hampir menyesakkan udara bumi. Menggema di sepanjang kapiler yang memenuhi penjuru pulau nagari. Seluruh jaringan provider menujukkan space overload, permintaan SMS lebaran yang mengandung rima ‘maaf’ ibarat virus menular yang berkembang biak dimana-mana. Dan tak jarang pula ritme puisi dikolaborasikan dengan sajak-sajak Apollo, sehingga tercipta bait yang memukau untuk disenandungkan. Termasuk saya sendiri yang terkena virus itu, hehe..

Nah sobat, hasrat untuk meminta maaf pun tak bisa terbendung lagi. Seolah-olah kita ini orang yang mengidap overactive bladder, sehingga tak bisa lagi untuk ditahan-tahan. Kalau dulu masih jamannya kartu lebaran, barangkali sangat istimewa bisa mendapatkan kartu bertuan itu. Jika kita belum mendapatkan keikhlasan dan pemberian maaf dari orang yang kita dzalimi, maka susah pula untuk kita mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

Namun begini sobat, sudahkah kita memahami esensi dari meminta maaf dan memberi maaf? Jangan-jangan kita gampang minta maaf, tapi gampang juga buat salah? Ditambah lagi kita mungkin belum paham, kita meminta maaf maupun memberi maaf, ternyata hanya sekedar ucapan tanpa ditindaki dengan perbuatan? Dan juga, apa kita sudah tahu teladan kita Rosulullah SAW bersikap sebagai seorang yang pemaaf? Karena eh karena, jangan sampai timbul atau malah memicu masalah dan pertikaian baru nantinya. Yo maaf nih, penulis sendiri juga pernah mengalami hal ini soalnya,… Makanya saya juga sama-sama lagi belajar kok… kamu belajar, saya juga belajar. Jadi saya ini bukan orang pinter kok, apalagi dukun…??!!

Ok deh! Yuk, simak artikel yang saya sadur dari berbagai sumber ini… (agak panjang, tapi insya Allah sangat bermanfaat)

OBAT MUJARAB: MEMAAFKAN

Sulit memang menghitung kalimat maaf yang telah terlontar dari mulut Nabi saw yang shiddiq. Sifat tersebut tentu juga tak lepas dari bimbingan dan petunjukNya. Sebagaimana firman Allah: “Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika berdoa, sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)”. (QS. 68 : 48 )

Maka, sebagai umat Islam, selayaknyalah kita bertauladan pada Rasulullah saw. Kita harus berani memaafkan siapa pun yang berlaku aniaya pada diri kita. Maka, jika ada amarah terpendam dalam jiwa, hendaknya segera dibersihkan dengan maaf. Jika tidak, amarah itu akan menjadi gumpalan dendam yang berkarat. Jika hati berkarat oleh dendam, maka akan merusak jiwa. Bahkan akan tumbuh menjadi kemunafikan.

Marah adalah dosa yang mengotori jiwa. Agar jiwa selalu suci dan bersih dari noda dan dosa, maka maafkanlah segera orang yang memicu kemarahan kita. Tentang hal ini Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa (mampu) menahan marahnya (tatkala timbul marah), Allah akan menahan siksaNya.” Itu berarti, obat paling mujarab untuk menyembuhkan sifat ghodhob (marah) –dalam hal ini ghodhobus syaitan- tidak lain ialah: memaafkan.

Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.

Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah SWT berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134).

BELAJAR MEMAAFKAN DARI RASULULLAH

Setelah pembebasan Makkah, dihadapan orang-orang yang selama ini gigih memusuhinya, Rasulullah berkata : “Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang? Jawab mereka: “Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah.” Mendengar jawaban itu Nabi kemudian berkata: “Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas.” Begitu luruh jiwa Nabi, karena dengan ucapan itu kepada kaum Quraisy dan kepada seluruh penduduk Makkah, beliau telah memberikan amnesti (ampunan) umum. Padahal saat itu nyata mereka tergantung hanya di ujung bibirnya dan kepada wewenangnya atas ribuan bala tentara Muslim yang bersenjata lengkap yang ada bersamanya. Mereka dapat mengikis habis penduduk Makkah dalam sekejap hanya tinggal menurut perintah dari Nabi.

Dengan pengampunan dan pemberi maaf itu, jiwa Nabi telah melampaui kebesaran yang dimilikinya, melampaui rasa dengki dan dendam di hati, menunjukkan bahwa beliau bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Beliau bukan seorang tiran, yang mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Padahal Nabi mengenal betul, kejahatan orang-orang yang diampuninya itu. Siapa-siapa di antara mereka yang berkomplot untuk membunuhnya, yang telah menganiayanya dan menganiaya para pengikutnya. Mereka melemparinya dengan kotoran bahkan dengan batu saat mengajak manusia ke jalan Allah. Begitu pemaafnya Rasulullah sekalipun itu kepada orang yang selalu menebar permusuhan, meneror dan mengancam keselamatannya. Rasulullah begitu pemaaf, Tuhan juga Maha mengampuni kesalahan hamba-Nya. Mengapa kita manusia biasa susah sekali memberikan kema’afan?

FILOSOFI MAAF DALAM ISLAM

Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukan memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahaf “masih menahan amarah”. USAHAKANLAH UNTUK MENGHILANGKAN NODA-NODA ITU, SEBAB DENGAN BEGITU KITA BARU BISA DIKATAKAN TELAH MEMAAFKAN ORANG LAIN.

Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. Allah swt berfirman: “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan perangai yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran. Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putrinya Aisyah yang juga istri Nabi. Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.(Q.S. an-Nur : 22). Dari ayat ini ternyata ada tingkatan yang lebih tinggi dari alafwu (maaf), yaitu alshafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan. Darinya dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti berjabat tangan. Seorang yang melakukan alshafhu seperti anjuran ayat diatas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.

AlShafhu yang digambarkan dalam bentuk jabat tangan itu, menurut Al-Raghib al-Asfahaniy “lebih tinggi nilainya” dari pada memaafkan. Dalam alshafhu dituntut untuk mampu kembali membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama.” Let’s gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu)” bangun kembali masa depan dengan semangat yang baru. Kita selalu lupa, karena kesalahan yang telah dibuat orang lain, kita lalu MELUPAKAN SEMUA KEBAIKAN YANG TELAH DIBUATNYA. Untuk itu, kita juga harus memperlakukan semuanya secara seimbang. Yang terbaik buat kita hari ini adalah bersama-sama membangun kembali dengan semangat baru, ketulusan hati dan semangat persaudaraan. Jangan ada yang berkata: “Tiada maaf bagimu”. Ahli hikmah mengatakan: ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal. Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu. Ingatlah kesalahanmu pada orang lain, dan ingatlah kebaikan orang lain kepadamu.

Wallahu a’lamu.

Nah, sudah ngerti kali ya? Sip deh! Terakhir penulis mau ngucapin…

Mohon maaf atas segala khilaf yang telah saya lakukan, semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua di bulan Ramadhan ini. Amin ya Rabb…

Selamat berkumpul dengan sanak saudara…

Saya ucapkan, selamat Ied Al Fitri 1 Syawal 1431 H.

(Akhir bulan Ramadhan 1431 H)

_Farhan Hans_

facebook.com/farhan.izzuddin

4 Comments

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s